Saya Sedang Membaca

Kronikel Etanol oleh Hafizul Osman |Tunggul-tunggul Gerigis oleh Shahnon Ahmad | Atlantis: The Lost Continent Finally Found oleh Prof. Arysio Santos | The Mind of The Malay Author oleh Muhammad Haji Salleh | Joseph Anton: A Memoir oleh Salman Rushdie

Sunday, November 4, 2012

Pantai Batu Burok

Malam pun berkarat
titis-titis hujan dari pagi
angin mengusik kelam
tanpa bayang-bayang

Riuh cahaya dan bau menyambut kawan asing
asap jagung bakar dan bebola ikan
di pentas menderu warna-warna
sang nafiri menghidup panggung
kaki-kaki anak menyapa

Buaian melayang
larian budak-budak
taman permainan songsang waktu
buat si dara berbual galak dan
awang-awang yang memandang

Puteri Tujuh pun menyeru
melihat anak cucu-cucu
berterabur rahmat langit
menutup payung memadam api
pantai pun bersiul
memanggil anak kuala kembali ke tanah,
kembali ke rumah,
menyelimuti dirinya dengan
pintu tengkujuh rapat tertutup.

Kuala Terengganu
November 2012

2 comments:

ainunl.muaiyanah said...

Suasana sajak ini sangat sepi.

dan fad, saya suka sajak ini. :)

Taf Teh said...

Logik akal bisa menepis, "Mana mungkin langit menabur rahmat tatkala taman permainannya songsang waktu?"

Namum dzat Tuhan itu bersifat Ar-Rahman, maka yang menyonsang, tersongsang, disongsang pun masih menerima nikmat (istidraj) di dunia ini...


ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٲطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ